BAB I

PEMBAHASAN

 

B. Fungsi Kota

Menurut Noel P. Gist fungsi kotasecara garis besar yang sekaligus menunjukan tujuan yang ingin di capai oleh kota dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. production center, yakni kota sebagai pusat produksi , baik barang setengah jadi, maupun barang jadi.
  2. enter of trade and commerce, yakni kota sebagai pusat perdagangan dan niaga, yang melayani daerah sekitarnya. Kota seperti ini sangat banyak, seperti Rotterdam, singapura, hamburg.
  3. political capitol, yakni kota sebagai pusat pemerintahan atau sebagai ibukota Negara, misalnya kota London,brazil.
  4. cultural center, yakni kota sebagai pusat kebudayaan, contohnya kota vatikan, makkah, yerusalem.
  5. health and recreation, yakni kota sebagai pusat pengobatan dan rekreasi (wisata), misalnya Monaco, palm beach, florida, puncak bogor, kaliurang.
  6. difercified cities, yakni kota kota yang berfungsi ganda atau beraneka. Sebagai contoh kota Jakarta dan surabaya yang mencanangkan diri sebagai kota indamardi ( kota industri, perdagangan, maritime, dan pendidikan ), disamping sebagai kota pusat pemerintahan.

A. Sejarah Kota

Kota adalah hasil peradaban umat manusia, dan sejalan dengan peradaban itu pula maka kota mengalami sejarah pertumbuhan, perkembangan, mekar menjadi kota besar,dan kemudian kita lihat ada kota yang hilang yang tinggal namanya saja dalam sejarah. Kota pun menunjukan dinamika masyarakat. Lewis mumford dalam bukunya “the culture of cities” menggambarkan perkembangan kota sebagai berikut :

  1. eopolis : kota yang baru berdiri.
  2. polis : kota.
  3. metropolis : kota besar.
  4. megalopolis :kota yang sudah menunjukan keruntuhan.
  5. tyrannopolis : penguasa kota menguasai pedalaman dengan perusahan perusahan raksasa.
  6. Nekropolis : kota runtuh.

Sebagai gambaran dulu di Indonesia pernah ada kerjaan sriwijaya, singasari, majapahit dan lain-lain. Kerajaan tersebut tentunya mempunyai pusat pemerintahan yang sekaligus sebagai kota, bahkan kota besar. Setelah masa kejayaan kerajaan tersebut berangsur surut, memudar, dan bahkan ada yang secara tiba-tiba hancur atau runtuh oleh suatu peristiwa sejarah, seperti perang, bencana alam dan lain-lain sehingga suatu kota hilang dari permukaan bumi.

Kota-kota modern didirikan sebagai simpul bertemunya beberapa jalan perdagangan dimana orang bekumpul untuk mencoba keuntungan hidupnya.Menurut Louis Malassis dalam tulisannya Education and agricultural development, perubahan dari struktur masyarakat kota terbentuk dengan sendirinya, akan tetapi tidak pernah terlepas dari perkembangan di sekitarnya. Perubahan dari masyarakat desa menuju ke masyarakat kota tejadi karena adanya perubahan yang dikenal sebagai overal socio-economic changes aauperubahan social ekonomi secara menyeluruh di lingkungannya, hal mana juga mempengaruhi masyarakat desa yang bersangkutan.

Boskoff selanjutnya menemukan bahwa sebab-sebab pembentuk kota dalam abad modern ialah  :

  1. Factor ekonomi : penyesuaian dan penyempurnaan dari alat-alat produksi agrarian, penjualan hasil agrarian ke daerah yang lebih luas daripada desanya sendiri dan perubahan system keuangan dari system barter ke system uang.
  2. Factor naiknya kelas menengah : setelah mempunyai peranan dalam bidang ekonomi, kota meminta juga peranan dalam bidang politik, hal mana mula-mula terjadi dengan penuntutan hak-hak politik.
  3. Penyempurnaan dan penyesuaian dari undang-undang dan hukum karena adanya pereseran kekuasaan ekonomi yang menjadi pergeseran politik, sehingga akhirnya dirasakan keperluan akan adanya hukum dan undang-undang yang meresmikan kekuasaan politik yang telah dimiliki.
  4. Peranan universitas khususnya dalam proes industriaisasi, modernisasi dan spesialisasi : pendidikan universitas mula-mula hanya terbukti untuk kaum feodal dan kelas menengah, akan tetapi khususnya setelah abad ke 19 terbuka  untuk merekayang hendak memperluas pengetahuan setelah mempunyai keterampilan teknik. Justru Negara-negara modern sangat   tergantung dari adanya tenaga-tenaga terdidik dan terlatih untuk lapisan menengah mupun lapisan atas dalam bidang adminitrasi.
  5. Terjadinya perubahan ekologi di kota: dahulu di kota-kota merupakan benteng-benteng dan setelah itu kota menjadi pusat perdagangan dan pusat kehidupan ekonomi, yang terutama berembang dengan pesat dengan keadaan damai.
  6. Perubahaan stratifikasi dari mereka yang mempunyai keahlian dan keterampilan, khususnya dalam pekerjaan tangan, umpamanya pembuatan benda-benda dari logam mulia seperti perak dan mas, serta pertenunan dan pembatikan yang mula-mula mempunyai pengaruh social dan kadang-kadang politik juga, berubah menjadi stratum yang peroleh kekuasaan ekonomi apabila menguasai distribusi bahan produksinya.

Sedangkan menurut Mac Iver-Page sebab-sebab pembentuk kota adalah sebagai berikut :

  1. Desa dalam kehidupannya makin tergantung dari kota dan bahwa kedua-duanya harus menyesuaikan diri satu sama lain. Apabila desa dengan penduduknya yang mengalir ke kotaharus menyesuaikan diri dengan keadaan kota, sebaliknya juga kota (umpamanya dalam benda yang di jualnya) harus menyesuaikan diri dengan selera dan kebutuhan desa.
  2. Desa merupakan sumber tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industry di kota sedangkan sebaliknya industry di kota membuka kesempatan kerja kepada desa yang tanahnya makin berkurang oleh petambahan penduduk, sehingga mengalami pengangguran terbuka maupun semu.

C. Kota Dalam Abad Ke-20.

McIver-Page berpendapat bahwa tidak boleh dilupakan bahwa kota merupakan hasil pengelompokandari beberapa daerah yang karena perubahan ekonomi dan perubahan struktur mengalami pengelompokan baru.

Dilihat dari hubungan antar manusia keadaan di kota mencerminkan situasi :

  1. secara fisik manusia tidak terisolasi.
  2. di kota terdapat banyak persekutuan (associations)dengan keadaan bahwa individu adalah anggota dari banyak persekutuan.
  3. hubungan antar manusia lebih bersifat hubungan kelompok sekunder daripada hubungan kelompok primer dan katagorik sesai profesi.
  4. terdapatnya spesialisasi juga dalam kehidupan ekonomi dan hubungan kelompok social.
  5. control sosial dilakukan keluara sebagai pengganti control social masyarakat desa, akan tetapi control social ini makin lama makin berubah menjadi control social dalam bentuk perundang-undangan / hubungan antar kelompok ditentukan oleh Negara.
  6. keluarga, berbeda dengan desa, bukan lagi merupakan kesatuan ekonomi tetapi mrnjadi kesatuan social dalam arti murni
  7. keputusan haruslah diambil oleh individu sendiri.
  8. keterampilan dan prestasi lebih menentukan daripada status social, bahkan sebaliknya status bisa dicapai karena spesialisasi dan keterampilan.

Dalam abad ke-20 ini, kota mengalami perkembangan social, diantaranya sebagai berikut :

  1. bertambahnya kota karena bertambah dan meluasnya jaringan transpotasi.
  2. hubungan antar individu akan memberi prestise social kepada individu tergantung dengan siapa individu bergaul (sebagai akibat keteampilan da spesialisasi), sehingga status akan meningkat atau menurun sesuai prestasi.
  3. Sifat local berkurang dan hubungan antar mausia makin longgar.
  4. Bertambahnya sifat pervasi daam nteraksi ; bebeda dengan di desa  secara tidak langsung sifat ppaksaan psikologi lebih menonjol .
  5. Kesempatan kerja makin meningkat.
  6. Kota menyerap potensi tenaga kerja dari desa secara tidak selektif sehingga setelah mereka memperoleh suatu keterampilan dan spesialisasi di kota mereka mempunyai suatu penghasilan ; kenyataan ini merupakan sumber keresahan untuk desa.
  7. Kota sebagai sumber perubahan mengadakanperubahan terhadap masyarakat, mulai dari lapisan yang rendah sampai yang tertinggi. Dengan demikian kota menjadi pusat perubahan mendatar maupun vertical. Perubahan mendatar merupakan penyebaran kebudayaan dan mental bagi penduduk desa yang ke kota, sebaliknya perubahan vertical merupakn perubahan suatu masyarakat antar lapisan.
  8. Di kota-kota perubahan menjadi masalah prestise, sehingga orang berlomba-lomba untuk berubah dan menapai lapisan social lebih tinggi.
  9. Menurut hoselitz kota-kota di asia menjadi pusat perubahan social, perubahan ekonomi, perubahan politik, dan perubahn pendidikan. Kota-kota di asiamerupakan penghubung antara unia barat dan dunia timur. Sehubungan dengan ini, kota pelabuhan merupakan pusat pemasukan pendapat-pendapat baru (Ginsberg,1955)

Dalam teori dari boskoff jelas diketemukan di kota-kota besar seperti Jakarta dan surabaya terjadi “spesialisasi” : seperti pendatang dari tegal dan sekitarnya menjadi tukang mie, penjual es parut dan penjual jamudari solo dan klaten, penjual buah-buahan dari semarang, penjual sate dari Madura, penjual soto dari lamongan dan lain-lain. Selanjutna teori teori ini membuktikan walaupun terjadi perubahan social besar-besaran dikota, teori teori sebelumnya yang berpendapat bahwa kota menyerap daerah dan penduduk di sekitarnya secara egoistic (industrialisasi) tidak tepat lagi. Kenyataanya ialah bahwa kota memerlukan desa sebagaimana desa memerlukan kota dan sebaliknya bahwa setelah fase tertentusuatu perkembangan kota, dinamika social mengalami stabilitas, justru karena adanya keseimbangan social dan ekonomi maupun mental antara kota dan desa.

D. Pertumbuhan Kota Dalam Perspektif Historis

Kota-kota yang pertama, seperti Ur di daerah Chaldea dan Mohenjo-Daro di India, agaknya lahir sebelum tahun 4000 SM, dan kehidupan mereka jelas berkaitan dengan aspek-aspek teknologi neolitik. Pertanian memberi kemungkinan untuk persediaan makanan, dan menyebabkan adanya orang-orang yang dapat hidup dengan membuat alat-alat, dan bukan hidup dari pertanian, serta menjualnya untuk memperoleh makanan. Di jantung setiap kota, baik dulu maupun sekarang, memang terdapat pasar bahan makanan. Persediaan makanan dapat, khususnya diadakan oleh orang-orang atau kelompok yang memegang kekuasaan. Pajak atau persembahan dari daerah pedesaan di sekitarnya merangsang perkembangan tulis-menulis dan hitung-menghitung, serta memberi kemungkinan kepada para penguasa untuk membayar pegawai kantor, prajurit, dan pembantu, maupun mengupah orang untuk membangun istana dan kuil mereka, membuat pakaian yang bagus-bagus bagi mereka, dan menghias diri dengan perhiasan yang diperdagangkan oleh kalifah dari tempat-tempat yang jauh di seberang padang gurun. Dengan demikian, jasa yang diekspor oleh kota ke daerah pedesaan di luar kota, untuk ditukarkan dengan makanan, meliputi jasa-jasa politik dan administrasi, dan juga agama. Sebab berdasarkan hasil penggalian dari kota-kota kuno itu, agaknya sangat mungkin bahwa dalam banyak hal, setidaknya sebagian dari kekuasaan mereka itu berasal dari kepercayaan, bahwa mereka adalah keturunan dewata atau raja pendeta, satu-satunya yang dapat melayani upacara upacara, yang dianggap menentukan kesuburan tanah dan kelangsungan hidup umat manusia. Dengan demikian, di antara andil yang diberikan oleh kota-kota neolitik kepada kebudayaan umat manusia, terdapat agama yang terorganisasikan, birokrasi, dan organisasi kekuatan militer. Yang terakhir ini perlu untuk memelihara ketertiban di dalam kota-negara dan untuk menghalau orang-orang badui (nomad) yang iri hati, yang berkeliaran di pinggiran kota, seperti dikemukakan oleh Keyfitz, hubungan antara kota kuno dan daerah pedesaan di sekitarnya sangat eksploitatif, karena didasarkan atas kekuatan, birokrasi dan kekuasaan yang sah. Dalam berbagai persadaban sesudahnya, ada keseimbangan yang lebih baik, dengan dominasi kota atas daerah disekitarnya lebiuh dalam arti politik. Kota adalah medan pasar pertukaran barang dan jasa, yang tidak dikendalikan, yang menemjukan harga-harganya sendiri. Lebih kemudian lagi, dalam peradaban yang sangat maju, dalam kenyataan, pajak diperkotaan memungkinkan pemberian bantuan kepada pedesaan melalui berbagai program subsidi harga dan sebagainya. Akan tetapi, di dalam masyarakat non-industri dewasa ini, lebih besar kemungkinannya bahwa pajak yang dibayar oleh petani itu membentuk modal guna pembangunan industri, misalnya melalui bea masuk untuk barang-barang konsumsi. Akhirnya, kaum petani dapat diharapkan akan mendapat keuntungan.

Kota-kota terbesar pada zaman kuno mungkin berpenduduk sampai satu juta orang, dan dalam peradaban pra-industri yang paling maju, 10 persen atau lebih hidup di kota-kota. Pada puncak kekuasaannya sekitar tahun 150, Roma berpenduduk satu juta orang, dan dari seluruh penduduk imperiumnya, sebesar 50-100 juta orang, kira-kira 10 juta tinggal di kota-kota. Dengan suratnya imperium Romawi, kota-kota tersebut mati. Pada abad kesembilan, penduduk Roma diperkirakan 17.000 orang, dan baru pada zaman modern penduduknya mencapai jumlah satu juta lagi, kadang-kadang masih tergantung pada selokan-selokan yang dibuat pada zaman klasik. Demikian juga, menurut Kracke, di Cina ada kota-kota dengan penduduk melebihi satu juta dalam abad ketiga belas, jauh lebih besar dari kota ynag mana pun di Eropa pada zaman itu, dan pada abad kedelapan belas yang makmur, sebanyak 20 persen penduduk Cina hidup di kota-kota. Perkiraan seperti itu sesuai benar dengan sensus awal zaman modern diberbagai masyarakat pra-industri dan industri dini, pada tahun 1801, hampir sepuluh persen penduduk Inggris dan Wales tinggal di London, sedang 70 persen lebih sedikit tinggal di kota-kota besar lain dengan penduduk 20.000 orang atau lebih. Di India, penduduk kota antara 9 dan 10 persen dari seluruh penduduknya, menurut sensus Inggris dari tahun 1881 hingga 1921, yang kemudian naik menjadi 20 persen pada tahun 1971, dan kira-kira 22 persen pada tahun 1980.

Kenaikan cepat dari ukuran dan pentingnya kota mula-mula terasa di masyarakat industri dini. Seperti dikatakan oleh Kngsley Dvis, sebelum tahun 1850, tidak ada masyarakat yang dapat digambarkan sebagai masyarakat yang didominasi oleh kota-kota, dan pada tahun 1900 hanya satu, yaitu Britania Raya yang daapt dianggap demikian. Sensus 1851 yang untuk eprtama kali menunjukkan bahwa lebih banyak orang tinggal di kota-kota dari pada di pedesaan, adalah tonggak sejarah umat manusia, tidak hanya untuk di Inggris. Disini, bagian penduduk yang diklasifikasikan sebagai penduduk kota terus naik sampai mencapai puncaknya sebesar 80 persen lebih sedikit pada tahun 1951. Sejak itu ada penurunan sedikit karena dengan adanya transpor modern, orang dapat tinggal di pedesaan dan bekerja di kota. Memang Inggris mengimpor banyak bahan pangan dan sebagai gantinya mengekspor produk industri.