BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Husnudhan

1. Husnudhon

Husnudhan secara bahasa berarti “berbaik sangka” . [1]lawan katanya adalah suuzan yang berarti “berburuk sangka” atau apriori ,skeptis ,dan sebagainya. Seorang yang memiliki sikap husnudhan akan mepertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih, dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya.[2]

Sebaliknya orang yang pemikiranya senantiasa dijelajahi oleh sikap suuzan akan memandang sesuatu selalu jelek. seolah-olah  tidak ada sedikitpun kebaikan dalam pikiranya dan cenderung menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya

Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga ,cemas, amarah,dan benci. Padahal kecurigaan,kecemasan ,kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan semata yang tidak jelas sebabnya, terkadang apa yang ditakutkannya selama ini belum tentu  terjadi pada dirinya atau orang lain.

2. Pembagian Husnudhon

Secara garis besar Husnudhan dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu [3]:

a)      Husnudhan kepada Allah;

Hunudhan kepada Allah dapat ditunjukan dengan sifat tawakal ,sabar,dan ikhlas dalam menjalani hidup.

b)     Husnudhan kepada diri sendiri;

Husnudhan  kepada diri ditunjukan dengan sikap percaya diri dan optimis serta inisiatif.

c)      Husnudhan kepada sesama manusia;

Husnudhan terhadap sesama manusia ditunjukan dengan cara berpikir positif ,dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga

a)      Husnudhan Kepada Allah

Salah satu akhlak terpuji yang harus tertanam pada dirimu adalah sifat husnudhan kepada Allah. Sifat  husnudhan kepada Allah adalah sikap yang selalu berbaik sangka atas segala kehendak Allah terhadap hamba-Nya. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar ialah, Mengapa kita harus berbaik sangka kepada Allah ? . Banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah membuat kita secara tidak langsung menganggap Allah telah tidak adil kepada kita. Padahal ,sebagai seorang mukmin sejati  senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan Allah kepada kita adalah yang terbaik .

Seseorang boleh saja sedih ,cemas , dan gundah bila terkena musibah, tetapi hal tersebut jangan sampai berlarut larut sehingga akan membuat dirinya menyalakan Allah sebagai penguasa takdir. Sikap  terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata hati dan perasaan, kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan Allah kepada kita mengandung hikmah, inilah yang disebut dengan sikap husnudhan kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus ayat 44:

¨bÎ) ©!$# Ÿw ãNÎ=ôàtƒ }¨$¨Y9$# $\«ø‹x© £`Å3»s9ur }¨$¨Z9$# öNåk|¦àÿRr& tbqãKÎ=ôàtƒ ÇÍÍÈ

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itu sendiri berbuat anuaya kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44)”

Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui atas apa yang terjadi terhadap hambanya ,kita seharusnya berpikir optimis, yakinlah bahwa Rahmat dan Karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus. Berikut  firman Allah SWT ,di bawah ini;

( ÓÉLyJômu‘ur ôMyèřur ¨@ä. &äóÓx« 4……..

Artinya: “dan rahmat ku meliputi segala sesuatu” (QS.Al-‘Araf 7 : 156).

Sebagaimana firman Allah diatas, yang telah menjelaskan bahwa Rahmat dan Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu ,kita perlu berhusnuzan kepada Allah dalam segala hal dan keadaan.

Allah Maha Mengetahui, maka disaat kita senang dan suka (karena mendapatkan rezeki dan kenikmatan dari Allah ),maupun saat dalam keadaan susah dan duka (karena mendapatkan ujian dan cobaan ) hendaknya kita iringi dengan kita berhusnudhan kepada Allah SWT. Sebab  semua yang diberikan oleh Allah ,baik berupa kenikmatan maupun cobaan ,di dalamnya mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam sebuah hadits qudis yang berbunyi :

Artinya : “selalu menuruti sangkaan hamba ku terhadap diriku jika ia berprasangka baik maka akan mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan leburukan.” (H.R. at –tabrani dan ibnu hibban).

  1. 1.      Sikap Husnuzan Kepada Allah
    1. Sabar serta senatiasa berserah diri kepada Allah (tawakal), [4]

yakni mempercayakan diri kepadaNya dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan mantap.

Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112

4’n?t/ ô`tB zNn=ó™r& ¼çmygô_ur ¬! uqèdur Ö`Å¡øtèC ÿ¼ã&s#sù ¼çnãô_r& y‰YÏã ¾ÏmÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz öNÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd tbqçRt“øts†

Artinya :

Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah:112)

  1. Senantiasa taat kepada Allah
  2. Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan
  3. Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah
  4. Syukur dan qona’ah, yakni senatiasa berterima kasih atas pemberian Allah serta merasa cukup atas pemberihanNya itu

Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59

öqs9ur óOßg¯Rr& (#qàÊu‘ !$tB ÞOßg9s?#uä ª!$# ¼ã&è!qߙu‘ur (#qä9$s%ur $uZç6ó¡ym ª!$# $oYŠÏ?÷sã‹y™ ª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù ÿ¼ã&è!qߙu‘ur !$¯RÎ) ’n<Î) «!$# šcqç6Ïîºu‘ ÇÎÒÈ

Artinya :

Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. (Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (QS. At-Taubah:59)

  1. 2.    Hikmah Husnuzan kepada Allah

Sikap husnuzan mempunyai hikmah yang besar. Berhusnuzan kepada Allah memiliki hikmah yang banyak, diantaranya seperti berikut.

1)      Dapat menumbuhkan sikap untuk selalu optimis dalam menyongsong masa depan

Sebagaimana firman Allah yang Artinya :

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

2)      Menumbuhkan perasaan tidak mudah putus asa

3)      Menumbuhkan perasan syukur kepada Allah atas nikmat yg telah dianugrahkan allah kepada kita [5]

4)      Menumbuhkan sifat sabar dan tawakkal.

b)   Husnuzan kepada Diri Sendiri

Husnuzan kepada diri sendiri adalah sikap baik sangka kepada diri sendiri dan meyakini akan kemampuan diri sendiri.

Husnuzan kepada diri sendiri dapat ditunjukkan dengan sikap-sikap berikut:[6]

  1. 1.      Gigih dan Optimis

Gigih berarti sikap teguh pendirian, tabah, dan ulet atau berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita. Sedangkan optimis adalah sikap yang selalu memiliki harapan baik dan positif dalam segala hal.

Manfaat sikap gigih adalah:

a. Membentuk pribadi yang tangguh

b. Menjadikan seseorang teguh pendirian sebab tidak mudah menerima pengaruh buruk dari orang lain

c. Menjadikan seseorang kreatif

d. Menyebabkan seseorang tidak gampang berputus asa dan menyerah terhadap keadaan

2. Berinisiatif

Berinisiatif artinya pelopor atau langkah pertama, atau senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi.

Ciri khas orang penuh inisiatif, adalah:

a. Kreatif

b. Tidak kenal putus asa

c)    Husnuzan kepada Sesama Manusia

Husnuzan kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.

Nilai dan manfaat dari sikap husnuzan kepada manusia adalah:

a. Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik.

b. Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.

c. Selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain

B. Pengertian Taubat

1. Taubat

Kata taubah dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung dua pengertian ;

  • Ø Pertama, taubat berarti sadar dan menyesali dosanya dan berniat akan memperbaiki tingkah lakunya dan perbuatannya.
  • Ø Kedua, kata taubah berarti kembali kepada agama yang benar.

Dari sini dapat di simpulkan bahwasanya Taubat ialah menyadari, menyesali dan berniat hendak memperbaiki perbuatannya yang salah.

Menurut pendapat Imam Ghazali , Taubat ialah kembali mengikuti jalan yang benar setelah menempuh jalan yang salah. Menurut Hasib Ash Shiddiq, berpindah dari keadaan dibenci dan dikutuk oleh Allah kepada keadaan yang diridai dan dicintai-Nya.

Dalam refrensi lain juga dijelaskan pengertian taubat sebagai berikut ;

Kata taubat berasal dri bahasa arab “at-taubah”, yang berarti ruju’ atau kembali. Taubat  mempunyai arti kembali. Seseorang dikatakan kembali atau bertaubat apabila dia menjauhi segala perbuatan dosa. Maka arti taubat ialah kembali kepada Allah SWT dengan melepaskan seluruh hubungan hati dengan dosa, kemudian kembali mengerjakan kewajibannya kepada Allah SWT.

Menurut syariat, taubat artinya meninggalkan seluruh perbuatan dosa dan menyesali semua kemaksiatan yang telah dikerjakannya kerana Allah SWT. Kemudian berusaha untuk tidak mengulangi nya kembali .

  1. 2.      Dasar-dasar Tobat

Dasar-dasar tobat adalah sebagai berikut:[7]

1)      Surah At-Tahrim ayat 8 yang artinya:

“Hai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.”

2)      Surah An-Nur ayat 31 yang artinya:

“Dan berobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman agar kamu beruntung.”

4)      Hadis Nabi SAW yang artinya:

“Stiap manusia (dapat berbuat) salah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah itu yang mau bertobat. (HR. Tirmizi, Ibnu Majali, dan Hikmah)”

Seorang muslim tidak boleh merasa terlambat bertobat, kapan saja, di mana saja, Allah akan menerima tobat siapa pun sebelum byawa belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).

3. Syarat-Syarat Taubat

  • Ø Menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
  • Ø Meninggalkan perbuatan maksiat itu
  • Ø Bertekan serta berjanjitidak akan mengulanginya kembali.
  • Ø Mengikutinya dengan perbuatan baik, sebab perbuatan baik dapat menutup keburukan kita.

Disamping persyaratan di atas ada pula yang menyatakan syarat taubat sebagai berikut:

ü Persyaratan Melakukan Tobat

Tidak semua tobat itu bisa diterima oleh Allah. Allah hanya mau menerima tobat seseorang jika memnuhi persyaratan tertentu. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Menyadari kesalahan yang diperbuat

Pelaku dosa tidak akan bisa melakukan tobat jika tidak mampu menyadari perbuatannya. Karena itu pelaku dosa harus mampu menyadarkan dirinya atas dosa-dosa yang telah dilakukannya.

b.      Menyesali kesalahan

Meskipun pelaku dosa telah mengakui dan menyadari kesalahannya, namun untuk menyesali dan berhenti dari perbuatan tersebut sangatlah sulit, maka sangat dibutuhkan kesabaran dan dubutuhkan bimbingan orang yang lebih mengetahui masalah agama.

c.       Memohon ampun kepada Allah

Rasulullah telah menganjurkan kepada umatnya yang beiman agar selalu memohon ampunan (istighfar) kepada Allah. Dan beliau mencontohkan dirinya sendiri, bahwa dia sehari memohon ampunan (istighfar) sebanyak seratus kali.

d.      Berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan tidak berbuat kesalahan lain

Pelaku dosa harus mampu berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Karena bila teulang,kemudian bertaubat, kemudian terulang lagi, maka Allah SWT akan menempatkannya di jahanam.

e.       Memperbanyak berbuat kebaikan

Bertobat selain berhenti dari perbuatan dosa, harus rajin melakukan kebaikan hingga habis umurnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Toha:82

’ÎoTÎ)ur ֑$¤ÿtós9 `yJÏj9 z>$s? z`tB#uäur Ÿ@ÏHxåur $[sÎ=»|¹ §NèO 3“y‰tF÷d$# ÇÑËÈ

Artinya :

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (petunjuk Allah).

4.      Hikmah Tobat

Tobat selain menjadi kewajiban setiap muslim, juga memiliki hikmah seperti berikut:

  1. Orang yang bertobat akan dicintai Allah. QS al-Baqarah yang artinya:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang mensucikan dirinya”.

  1.  Orang yang bertobat akan delapangkan rezekinya oleh Allah dan dimudahkan segala urusannya.

Dalam suatu hadis ditegaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang yang bertobat (beristighfar) dan Allah juga akan mengganti kesusahan dengan kegembiraan serta akan memberikan rezeki kepadanya tanpa diduga-duga.

  1.    Orang yang bertobat akan disucikan hatinya dari segala dosa-dosa.

Membersihkan noda hitam di hati itu dengan memperbanyak berbuat kebaikan, karena dengan berbuat kebaikan bisa menhapus dosa-dosa yang telah dilakukan, dalam berbuat kebaikan itu didasari hati yang ikhlas hanya karena mencari rida Allah.

Firman Allah dalam QS Huud ayat 114

É4………………… ¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõ‹ãƒ ÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# 4 ÇÊÊÍÈ

“ Sesungguhnya kebaikan itu bisa menghapus kejelekan”.

  1. 5.      Contoh perilaku orang yang bertobat:
  • Ø Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa.
  • Ø lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.
  • Ø Seorang penjahat, perampok, penjudi, pemerkosa, pelaku zina dia bertobat memohon ampunan kepada Allah SWT atas semua perbuatan dosanya selama ini, dia bertobat dengan sungguh sungguh (taubat nasuha), dia menyesali atas segala perbuatan dosanya selama ini dan dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

BAB III

KESIMPULAN

 

Husnudhan secara bahasa berarti “berbaik sangka” . lawan katanya adalah suuzan yang berarti “berburuk sangka” atau apriori ,skeptis ,dan sebagainya. Seorang yang memiliki sikap husnudhan akan mepertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih, dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya Sebaliknya orang yang pemikiranya senantiasa dijelajahi oleh sikap suuzan akan memandang sesuatu selalu jelek. seolah-olah  tidak ada sedikitpun kebaikan dalam pikiranya dan cenderung menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Kata taubat berasal dri bahasa arab “at-taubah”, yang berarti ruju’ atau kembali. Taubat  mempunyai arti kembali. Seseorang dikatakan kembali atau bertaubat apabila dia menjauhi segala perbuatan dosa. Maka arti taubat ialah kembali kepada Allah SWT dengan melepaskan seluruh hubungan hati dengan dosa, kemudian kembali mengerjakan kewajibannya kepada Allah SWT. Menurut syariat, taubat artinya meninggalkan seluruh perbuatan dosa dan menyesali semua kemaksiatan yang telah dikerjakannya kerana Allah SWT. Kemudian berusaha untuk tidak mengulangi nya kembali .

Hadis Nabi SAW yang artinya:

“Stiap manusia (dapat berbuat) salah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah itu yang mau bertobat. (HR. Tirmizi, Ibnu Majali, dan Hikmah)”

Seorang muslim tidak boleh merasa terlambat bertobat, kapan saja, di mana saja, Allah akan menerima tobat siapa pun sebelum byawa belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).

DAFTAR PUSTAKA

 

http://iwansubhan.blogspot.com/2011/01/husnuzan-dan-taubat.html

http://jokosiswanto77.blogspot.com/2010/06/bab-4-husnuzan-sebagai-perilaku-terpuji.html

http://jkpka-triyat.blogspot.com/2008/11/focus.html

Rahayu ,Suci & Toifuri, 2007 Pendidikan Agama Islam SMA ( Jakarta: Ganesa Exact)

Sya’rawi, Syeikh Mutawalli 2006 Kenikmatan Taubat (Jakarta : QultumMedia)


[1] Suci Rahayu & Toifuri, 2007 Pendidikan Agama Islam SMA (Jakarta: Ganesa Exact).hlm, 41

[3] Ibid,._

[5] Pendidikan Agama Islam SMA,.hlm 42